Selasa, 24 Desember 2019

WANITA SHALEHA KECANTIKANNYA MENGALAHKAN BIDADARI SURGA


A’udzubillaahi-minasy-syaithaanir-rajiim.
Bismillaah-hirrahmaanir-rahiim.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah.” (Hadits riwayat Muslim dari Abdullah ibnu Umar).
Wanita Sholehah mengalahkan segala perhiasan yang berada di dunia. Bahkan mengalahkan kecantikan bidadari surga. Jadi wanita sholeha itu mengalahkan segala kecantikan, baik di dunia maupun di akherat.
Lantas seperti apa sebenarnya kecantikan bidadari surga itu, Yang dapat dikalahkan kecantikannya oleh wanita sholeha?
Inilah dialog dan pertanyaan Ummu Salamah kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam.

Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam sebuah hadist, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: 
Saya berkata,‘Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’.” (SQ. Al-Waqi’ah 56:22).
Wahuurun 'iinun
"Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli," – (QS.56:22)
Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilai seperti sayap burung nasar.”

Saya berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (SQ. Al-waqi’ah 56: 23)
Kaamtsaalillu'lu'il maknuun(i)
"laksana mutiara yang tersimpan baik." – (QS.56:23)
Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia
.
Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (QS. Ar-Rahman 55: 70)
Fiihinna khairaatun hisaanun
"Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik, lagi cantik-cantik." – (QS.55:70)
Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita”

Saya berkata lagi, Jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (QS. Ash-Shaffat 37: 49)
Wa'indahum qaashiraatuth-tharfi 'iinun
Kaannahunna baidhun maknuunun
"Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari, yang tidak liar pandangannya, dan jelita matanya," – (QS.37:48)
"seakan-akan mereka adalah telur (burung unta), yang tersimpan dengan baik." – (QS.37:49)
Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”

Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (QS. Al-Waqi’ah 56: 37)
Innaa ansya'naahunna insyaa-an
Faja'alnaahunna abkaaran
'Uruban atraaban
Ashhaabil yamiin(i)
"Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung," – (QS.56:35)
"dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan," – (QS.56:36)
"penuh cinta, lagi sebaya umurnya," – (QS.56:37)
"(Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan," – (QS.56:38)

Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”

Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”
Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”

Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”
Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”

Sungguh indah perkataan Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam yang menggambarkan tentang bidadari bermata jeli. Namun betapa lebih indah lagi dikala beliau mengatakan bahwa wanita dunia yang taat kepada Allah lebih utama dibandingkan seorang bidadari. Ya, bidadari saudaraku.

Sungguh betapa mulianya seorang muslimah yang kaffah diin islamnya. Mereka yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Sungguh, betapa indah gambaran Allah kepada wanita shalehah, yang menjaga kehormatan diri dan suaminya. Yang tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan keikhlasan yang ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya.

Sebaik-baik perhiasan ialah wanita salehah. Dan wanita salehah adalah mereka yang menerapkan islam secara menyeluruh di dalam dirinya, sehingga kelak ia menjadi penyejuk mata bagi orang-orang di sekitarnya. Senantiasa merasakan kebaikan di manapun ia berada. Bahkan seorang “Aidh Al-Qarni menggambarkan wanita sebagai batu-batu indah seperti zamrud, berlian, intan, permata, dan sebagainya di dalam bukunya yang berjudul “Menjadi wanita paling bahagia”.
Subhanallah. Tak ada kemuliaan lain ketika Allah menyebutkan di dalam Al-Quran surat An-Nisaa’ ayat 34, bahwa wanita salehah adalah yang tunduk kepada Allah dan menaati suaminya, yang sangat menjaga di saat ia tak hadir sebagaimana yang diajarkan oleh Allah Subhanhu wata’ala.

Surat 4 An-Nisaa’ ayat 34:
Ar-rijaalu qau-waamuuna 'alannisaa-i bimaa fadh-dhalallahu ba'dhahum 'ala ba'dhin wabimaa anfaquu min amwaalihim fash-shaalihaatu qaanitaatun haafizhaatul(n)-lilghaibi bimaa hafizhallahu wal-laatii takhaafuuna nusyuuzahunna fa'izhuuhunna waahjuruuhunna fiil madhaaji'i waadhribuuhunna fa-in atha'nakum falaa tabghuu 'alaihinna sabiilaa innallaha kaana 'alii-yan kabiiran
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan, sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka Wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah, lagi memelihara diri, ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu kuatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya, Allah Maha Tinggi, lagi Maha Besar." – (QS.4:34)

Dan bidadari pun cemburu kepada mereka karena keimanan dan kemuliaannya. Bagaimana caranya agar menjadi wanita salehah?
Tentu saja dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Senantiasa meningkatkan kualitas diri dan menularkannya kepada orang lain. Wanita dunia yang salehah kelak akan menjadi bidadari-bidadari surga yang begitu indah, mengalahkan keindahan bidadari surga yang diciptakan Allah secara langsung.

Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita
untuk menerima gelar sholehah, dan seterusnya menerima pahala surga yang penuh kenikmatan dari Allah Subhanahu wata’ala.
Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu :
1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
2. Taat kepada suami

Semoga bermanfaat.
Wallahu’alam.

Wasalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar