A’udzubillaahi-minasy-syaithaanir-rajiim.
Bismillaah-hirrahmaanir-rahiim.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
“Dunia
adalah perhiasan dan
sebaik-baik perhiasan
dunia adalah wanita
sholehah.” (Hadits riwayat Muslim dari Abdullah ibnu Umar).
Wanita
Sholehah mengalahkan segala perhiasan yang berada di dunia. Bahkan mengalahkan
kecantikan bidadari surga. Jadi wanita sholeha itu mengalahkan segala
kecantikan, baik di dunia maupun di akherat.
Lantas
seperti apa sebenarnya kecantikan bidadari surga itu, Yang dapat dikalahkan
kecantikannya oleh wanita sholeha?
Inilah dialog dan pertanyaan Ummu Salamah kepada Rasulullah Salallahu
‘alaihi wasallam.
Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam
sebuah hadist, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:
Saya berkata,‘Wahai Rasulullah,
jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata
jeli’.” (SQ. Al-Waqi’ah 56:22).
Wahuurun 'iinun
"Dan (di dalam surga
itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli," – (QS.56:22)
Beliau menjawab, “Bidadari yang
kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilai seperti sayap burung
nasar.”
Saya berkata lagi, “Jelaskan
kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (SQ. Al-waqi’ah
56: 23)
Kaamtsaalillu'lu'il
maknuun(i)
"laksana mutiara
yang tersimpan baik." – (QS.56:23)
Beliau menjawab, “Kebeningannya
seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan
manusia
.
Saya berkata lagi, “Wahai
Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada
bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (QS. Ar-Rahman 55: 70)
Fiihinna khairaatun
hisaanun
"Di dalam
surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik, lagi cantik-cantik."
– (QS.55:70)
Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan
wajahnya cantik jelita”
Saya berkata lagi, Jelaskan kepadaku
firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan
baik’.” (QS. Ash-Shaffat 37: 49)
Wa'indahum
qaashiraatuth-tharfi 'iinun
Kaannahunna baidhun
maknuunun
"Di sisi-sisi mereka
ada bidadari-bidadari, yang tidak liar pandangannya, dan jelita matanya,"
– (QS.37:48)
"seakan-akan mereka
adalah telur (burung unta), yang tersimpan dengan baik." – (QS.37:49)
Beliau menjawab, “Kelembutannya
seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit
telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”
Saya berkata lagi, “Wahai
Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.”
(QS. Al-Waqi’ah 56: 37)
Innaa ansya'naahunna
insyaa-an
Faja'alnaahunna
abkaaran
'Uruban atraaban
Ashhaabil yamiin(i)
"Sesungguhnya Kami
menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung," – (QS.56:35)
"dan Kami jadikan
mereka gadis-gadis perawan," – (QS.56:36)
"penuh cinta, lagi
sebaya umurnya," – (QS.56:37)
"(Kami ciptakan
mereka) untuk golongan kanan," – (QS.56:38)
Beliau menjawab, “Mereka adalah
wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan
beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia
menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah,
mengasihi dan umurnya sebaya.”
Saya bertanya, “Wahai Rasulullah,
manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita
dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti
kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”
Saya bertanya, “Karena apa wanita
dunia lebih utama daripada mereka?”
Beliau menjawab, “Karena shalat
mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah
mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya
berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya
terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah
lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak
sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali.
Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”
Saya berkata, “Wahai Rasulullah,
salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat
laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga
pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”
Beliau menjawab, “Wahai Ummu
Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara
mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku,
sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku
di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik
itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”
Sungguh indah perkataan Rasulullah
sallallahu’alaihi wa sallam yang menggambarkan tentang bidadari bermata jeli.
Namun betapa lebih indah lagi dikala beliau mengatakan bahwa wanita dunia yang
taat kepada Allah lebih utama dibandingkan seorang bidadari. Ya, bidadari
saudaraku.
Sungguh betapa mulianya seorang
muslimah yang kaffah diin islamnya. Mereka yang senantiasa menjaga ibadah dan
akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Sungguh,
betapa indah gambaran Allah kepada wanita shalehah, yang menjaga kehormatan
diri dan suaminya. Yang tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan
keikhlasan yang ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia
tetap teguh mempertahankan keimanannya.
Sebaik-baik perhiasan ialah wanita
salehah. Dan wanita salehah adalah mereka yang menerapkan islam secara
menyeluruh di dalam dirinya, sehingga kelak ia menjadi penyejuk mata bagi
orang-orang di sekitarnya. Senantiasa merasakan kebaikan di manapun ia berada.
Bahkan seorang “Aidh Al-Qarni menggambarkan wanita sebagai batu-batu indah
seperti zamrud, berlian, intan, permata, dan sebagainya di dalam bukunya yang
berjudul “Menjadi wanita paling bahagia”.
Subhanallah. Tak ada kemuliaan lain
ketika Allah menyebutkan di dalam Al-Quran surat An-Nisaa’ ayat 34, bahwa
wanita salehah adalah yang tunduk kepada Allah dan menaati suaminya, yang
sangat menjaga di saat ia tak hadir sebagaimana yang diajarkan oleh Allah
Subhanhu wata’ala.
Surat 4 An-Nisaa’ ayat 34:
Ar-rijaalu
qau-waamuuna 'alannisaa-i bimaa fadh-dhalallahu ba'dhahum 'ala ba'dhin wabimaa
anfaquu min amwaalihim fash-shaalihaatu qaanitaatun haafizhaatul(n)-lilghaibi
bimaa hafizhallahu wal-laatii takhaafuuna nusyuuzahunna fa'izhuuhunna
waahjuruuhunna fiil madhaaji'i waadhribuuhunna fa-in atha'nakum falaa tabghuu
'alaihinna sabiilaa innallaha kaana 'alii-yan kabiiran
"Kaum laki-laki itu
adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan, sebagian
mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka
(laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka
Wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah, lagi memelihara diri, ketika
suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita
yang kamu kuatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka.
Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk
menyusahkannya. Sesungguhnya, Allah Maha Tinggi, lagi Maha Besar." –
(QS.4:34)
Dan bidadari pun cemburu kepada
mereka karena keimanan dan kemuliaannya. Bagaimana caranya agar menjadi wanita
salehah?
Tentu saja dengan melakukan apa yang
diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Senantiasa meningkatkan
kualitas diri dan menularkannya kepada orang lain. Wanita dunia yang salehah
kelak akan menjadi bidadari-bidadari surga yang begitu indah, mengalahkan
keindahan bidadari surga yang diciptakan Allah secara langsung.
Tidak banyak syarat yang dikenakan
oleh Islam untuk seseorang wanita
untuk menerima gelar sholehah, dan seterusnya menerima pahala surga yang penuh kenikmatan dari Allah Subhanahu wata’ala.
untuk menerima gelar sholehah, dan seterusnya menerima pahala surga yang penuh kenikmatan dari Allah Subhanahu wata’ala.
Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat
saja yaitu :
1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
2. Taat kepada suami
2. Taat kepada suami
Semoga bermanfaat.
Wallahu’alam.
Wasalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar