Selasa, 24 Desember 2019

KISAH SITI HAJAR IBUNDA NABI ISMAIL


A’udzubillaahi-minasy-syaithaanir-rajiim.
Bismillaah-hirrahmaanir-rahiim.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Menurut sebagian ulama tafsir bahwa Hajar adalah putri Raja Mesir. Dia adalah saudari perempuan pangeran Senusret, yang akan menjadi Raja pertama yang memerintah mesir.
Kemudian sampai suatu ketika Hexos menyerang mesir, Senusret dibunuh dan Hajar ditawan sebagai budak. Raja yang baru ini suka sekali terhadap wanita. Akan tetapi dia selalu tidak berhasil mendekati Hajar, karena tiap kali mendekati Hajar ada guncangan misterius yang terjadi (seperti halnya yang terjadi pada Sarah, tiap kali sang raja ingin menyentuhnya tiba-tiba tangannya tidak bisa bergerak)

Karena memiliki kesamaan antara Hajar dan Sarah (sebagai ‘wanita yang dijaga’), maka kemudian Raja Mesir tersebut memberikan Hajar kepada kepada Sarah sebagai hadiah.
Pendapat yang kedua dari sebagai ahli tafsir yang lain adalah bahwa Hajar memang seorang budak dari awal bukan anak Raja. Ini juga cerita israiliyat yang banyak atau sering kita dengar.
Tetapi yang perlu digaris bawahi dan diingat bahwa apapun pendapat yang ada baik Hajar adalah putri mahkota atau budak, bahwa Hajar adalah wanita yang mulia dari manapun asalnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah:”Sesungguhnya dilahirkan dari pernikahan bukan dari perzinahan.
Al Qurtubi menjelaskan bahwa maksud dari hadist diatas adalah bahwa nasab Rasulullah sampai ke Adam adalah nasab pernikahan, tidak ada satupun dari pihak Ayah atau Ibu yang melakukan perzinahan.

Sebagaimana yang terdapat di shahih muslim, Rasulullah bersabda : Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, dan Allah memilih Quraish dari keturunan Kinanah, dan dari  Quraish Allah pilih Bani Hasyim, dan dari Bani Hasyim Allah memilih yang paling baik yaitu Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam.”

Dan dalam riwayat yang lain berbunyi: “keturunan Adam yang paling baik adalah Ibrahim dan kemudian jadilah Ia KekasihNya, dari keturunan Ibrahim Allah pilih Ismail, dari keturunan Ismail Allah memilih Mudhor, dan dari Mudhor Allah pilih kinanah, dan dari Qinanah Allah pilih Quraish, dan dari Quraish Allah pilih Bani Hasyim, dan dari Bani Hasyim Allah pilih Muhammad”.
*Maka tidak diragukan lagi bahwa Hajar adalah wanita istimewa yang disiapkan untuk lelaki mulia, dan melahirkan keturunan yang mulia.*

HADIRNYA HAJAR DITENGAH KELUARGA IBRAHIM
Ibrahim tinggal di Babylonia, bagian selatan Mesoptamia (sekarang Irak).
Karena Negeri babilon tidak aman lagi bagi Ibrahim dan istrinya Sarah, maka ia memutuskan untuk pindah ke Syam (Palestina). Bersama Nabi Luth yang kemudian juga menjadi Nabi dan beberapa pengikutnya ia meninggalkan Babilon. Namun tidak berapa lama di Negeri Palestina diserang bahaya kelaparan dan penyakit menular. Ibrahim dan pengikutnya kemudian pindah ke Mesir. Mesir pada waktu itu diperintah oleh Raja kejam dan suka berbuat seenaknya. Raja Mesir suka merampas wanita-wanita cantik walapun wanita itu bersuami.

Diceritakan dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam kitab Shahih Buhkari :
Ibrahim dan Sarah Hijrah ke negeri Mesir, mereka mampir ke sebuah kota yang di pimpin oleh Raja yang kuat, Raja mengeluarkan kebijakan bahwa tidak boleh menggangu wanita yang bersama saudara lelakinya dan wanita boleh diambil jika bersama suami atau ayahnya. Maka ketika mata-mata Raja tahu akan kedatangan Ibrahim dan Sarah, mereka melaporkan bahwa ada wanita yang sangat cantik datang dan tidak ada yang pantas jadi suaminya selain Raja.

Maka Raja meminta mereka berdua agar dibawa kepadanya. Ketika Ibrahim dipanggil sang Raja dan ditanya apa hubungannya dengan Sarah maka Ibrahim menjawab bahwa Sarah adalah saudarinya. Kemudian Ibrahim kembali pulang ke rumahnya dan menyampaikan ke Sarah bahwa ia mengatakan kepada Raja ” bahwa kau adalah saudariku” dan Jangan memberi tahu kebohonganku kepadanya karena sesungguhnya di dalam kitab Allah, kamu adalah saudara perempuanku (dalam Islam),” kata Ibrahim.
“Semua orang Islam adalah saudara”

Sarah kemudian mengadu kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Ia beribadah dan bersujud, kemudian mengadukan kesedihannya. Ia memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wata’ala. “Ya Allah, jikalah Engkau mengetahui bahwa aku beriman kepada-Mu dan Rasul-Mu, mengetahui bahwa aku menjaga kehormatanku untuk suamiku, maka janganlah kau jadikan raja kafir itu berkuasa atasku,” kata Sarah sembari menangis.

Sarah kemudian bertemu dengan Raja. Melihat kecantikannya, timbul nafsu dalam dirinya. Berkali-kali sang raja ingin menyentuh Sarah, namun tangannya terasa lumpuh, tak mampu bergerak. Tangannya terpaku di dada.
Ia kemudian berkata pada Sarah, “Aku berjanji tak akan mengganggumu. Mohonlah kepada Tuhanmu agar melepaskan tanganku. Sungguh, aku tidak akan menyakitimu.” Sarah kembali berdoa, “Ya Allah, jika benar yang ia katakan, lepaskanlah tangannya.”

Allah Subhanahu wata’ala mengabulkan doanya. Tangan sang raja pun terlepas dan ia sembuh dari kekakuan tubuhnya. Namun, ia mengingkari janjinya. Ia kembali mendekati Sarah setelah tangannya dapat kembali bergerak. Kejadian yang sama pun terulang hingga tiga kali.
Firaun akhirnya menyerah. Ia justru ketakutan dengan kemampuan Sarah membentengi diri. Ia menuduh Sarah adalah makhluk halus serupa setan yang melakukan tipu daya. Sang raja segera memanggil pengawalnya dan berkata, “Kau bukanlah membawa seorang wanita, melainkan membawa setan.”
Si pengawal diperintahkan membawa kembali Sarah ke rumahnya. Sebelum pulang, raja memberikan seorang budak kepada Sarah sebagai hadiah. Ia adalah Hajar.

Kemudian pulanglah ketiganya ke Palestina. Selama tinggal bersama dengan Ibrahim dan Sarah, Hajar mendapat banyak Ilmu Aqidah.
Sampai dimasa itu Sarah belum juga dikarunia putra, padahal usia mereka semakin menua (86 tahun), sedangkan Sarah(76 thun). Maka berkatalah Sarah kepada Ibrahim, seandainya engkau menikah dengan Hajar mungkin engkau akan memperoleh keturunan darinya. Maka tak lama setelah pernikahannya dengan Hajar maka lahirlah Nabi Ismail.

Mari kita tengok bagaimana kesabaran Nabi Ibrahim dalam menanti keturunan yang dijanjikan oleh Allah
Qs. 37 Ash Shaaffaat ayat 100 – 101:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ( 100)
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ( 101)
Rabbi hab lii minash-shaalihiin(a)
Fabasy-syarnaahu bighulaamin haliimin
"Ya Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh'." – (QS.37:100)
"Maka Kami beri dia khabar gembira, dengan seorang anak yang amat sabar." – (QS.37:101)

Ayat ini menceritakan bahwa ketika Nabi Ibrahim ketika akan hijrah dari kota babilonia, memohon kepada Allah kiranya dianugerahi seorang anak yang saleh lagi taat yang dapat menolongnya dalam menyampaikan dakwah dan mendampinginya dalam perjalanan dan menjadi kawan dalam kesepian.
Kehadiran anak itu sebagai pengganti dari keluarga dan kaumnya yang ditinggalkannya. Permohonan Nabi Ibrahim ini diperkenankan Allah.
Kepadanya disampaikan berita gembira bahwa Allah akan menganugerahkan kepadanya seorang anak laki-laki yang punya sifat sangat sabar.

Sifat sabar itu akan muncul pada waktu baligh. Karena pada masa kanak-kanak sedikit sekali didapati sifat-sifat seperti sabar, tabah, lapang dada. Anak  itu adalah Ismail, anak laki-laki pertama dari Ibrahim.
Kesabaran Ismail benar-benar terbukti ketika perintah penyembelian datang dari Allah.
Perintah mengisahkan kisah Ismail, Al-Qur’an Surat 19 Maryam ayat 54.
Waadzkur fiil kitaabi ismaa'iila innahu kaana shaadiqal wa'di wakaana rasuulaa nabii-yan
"Dan ceritakanlah (hai Muhammad  kepada  mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur'an. Sesungguhnya ia adalah seorang  yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan  nabi." – (QS.19:54)

Selanjutnya, Ketika Ismail lahir maka kecemburuan Sarah semakin memuncak. Maka ia meminta kepada ibrahim agar menjauhkan Hajar darinya.
Kemudian Allah Subhanhu wata’ala menurunkan wahyu kepada Ibrahim supaya keinginan istri pertamanya  tersebut dipenuhinya. Lalu berangkatlah Nabi Ibrahim bersama  hajar dan Ismail ke tempat yang belum diketahui tujuannya. Pada akhirnya Ibrahim bersama Hajar dan Ismail tiba di suatu tempat kota suci yang disebut Makkah.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa: wanita yang pertama kali memakai ikat pinggang adalah Hajar (Hajar memakai ikat pinggang, dan membiarkan bagian belakang ikat pingganya menjuntai ke tanah dengan tujuan untuk menghapus jejaknya agar tidak diikuti Sarah)

Ketika sampai di Makkah Ibrahim memberi isyarat kepada Hajar agar menuju suatu tempat.
Dengan berbekal tempat makanan berisi kurma dan tempat minum berisi air, Ibrahim membelakangi Hajar dan kemudian melangkah meninggalkan keduanya. Hajar mengikutinya dan bertanya, “Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?”
Hajar mengulang pertanyaannya beberapa kali. Saat dilihatnya Ibrahim hanya diam, segera ia tersadar. “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?” tanyanya dengan kecerdasan luar biasa.
Benar“.Jawab Ibrahim
Jika demikian maka Allah tidak akan menelantarkan kami,”Jawab Hajar, wanita dengan penuh ketakwaan. Kemudian Ia kembali ke tempat semula, sedangkan Ibrahim melanjutkan perjalanannya.


Nabi Ibrahim pergi bukan atas kemauannya sendiri, Ia pergi karena perintah dari Allah. Dengan berat hati Ia pergi melanjutkan perjalannanya sampai ke Tsaniah, tempat dimana Hajar dan ismail tidak bisa melihatnya. Ibrahim adalah Ayah yang begitu penyayang, Ayah yang begitu penyayang itu sangat sedih, namun ia yakin Allah menginginkan yang terbaik untuk hamba-Nya. Tanpa sepengetahuan Hajar, Ibrahim menghadapkan wajahnya ke Baitullah seraya mengangkat kedua tangannya dan berdoa.

Al-Qur’an surat 14 Ibrahim ayat 35-37:
Wa-idz qaala ibraahiimu rabbiij'al hadzaal balada aaminan waajnubnii wabanii-ya an na'budal ashnaam(a)
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: 'Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala." – (QS.14:35)

Rabbi innahunna adhlalna katsiiran minannaasi faman tabi'anii fa-innahu minnii waman 'ashaanii fa-innaka ghafuurun rahiimun
"Ya Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya, orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." – (QS.14:36)

Rabbanaa innii askantu min dzurrii-yatii biwaadin ghairi dzii zar'in 'inda baitikal muharrami rabbanaa liyuqiimuush-shalaata faaj'al af-idatan minannaasi tahwii ilaihim waarzuqhum minats-tsamaraati la'allahum yasykuruun(a)
"Ya Rabb-kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb-kami (yang demikian itu), agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rejekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." – (QS.14:37)

Sementara itu, Hajar menyusui Ismail kecil dan minum dari tempat perbekalannya. Setelah air itu habis, ia kehausan. Demikian pula anaknya. Siti Hajar memperhatikan anaknya yang berguling-guling kehausan. Ia tak tega. Dengan penuh cinta, ia beranjak pergi mendaki Bukit Shafa. Ia berharap ada orang yang akan menolongnya atau menemukan lokasi air. Ketika tak menemukan apa yang dicarinya, ia menaiki Bukit Marwah. Terus-menerus seperti itu sebanyak tujuh kali, sampai datanglah pertolongan Allah. Tiba-tiba air keluar dari bawah kaki Ismail kecil yang menangis karena kehausan.

Hajar takjub dan berkata, “Zamzam, zamzam. Berkumpul-berkumpul.” Ia segera membuat kolam kecil agar air Zamzam tak kemana-mana.
Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada bunda Ismail, Hajar. Jika ia membiarkan Zamzam atau jika ia tidak membuat kolam, niscaya Zamzam menjadi mata air yang mengalir.”

Hajar minum lalu menyusui anaknya. Dengan limpahan karunia berupa air yang diberikan Allah kepadanya, banyak manusia singgah dan menetap di sana hingga ramailah tempat itu. Peristiwa mendaki Bukit Shafa dan Bukit Marwah diabadikan Allah sebagai salah satu rukun haji dan umrah. Tujuannya adalah agar kita yakin bahwa Allah tak akan menyia-nyiakan kita jika kita senantiasa patuh dan berusaha semaksimal mungkin dalam kehidupan ini, termasuk dalam berjuang untuk anak-anak kita.
Hajar mengerti Allah sangat menyayanginya. Ia yakin Allah akan selalu menolongnya.

KAJIAN DOA IBRAHIM AS
Ibrahim menoleh ke arah Ka’bah dan ia melihat Hajar dan Ismail. Tanpa diminta Hajar, Ibrahim berdoa untuk keduanya. (14:37).
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (٣٧)
Rabbanaa innii askantu min dzurrii-yatii biwaadin ghairi dzii zar'in 'inda baitikal muharrami rabbanaa liyuqiimuush-shalaata faaj'al af-idatan minannaasi tahwii ilaihim waarzuqhum minats-tsamaraati la'allahum yasykuruun(a)
"Ya Rabb-kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb-kami (yang demikian itu), agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rejekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." – (QS.14:37)
.
Kajian Doa nabi Ibrahim
Kita tahu bahwa Ibrahim adalah manusia yang cerdas dalam berdoa, maka mari kita kaji dibalik doa Ibrahim Alaihis Sallam pada surah 14:37 ini:
Nabi Ibrahim memakai kata Rabbana, (Ya Tuhan kami), padahal saat itu Nabi Ibrahim berdoa sendiri (dia tidak memakai kata Rabbi), Hal ini menunjukkan bahwa Ibrahim melibatkan Hajar dan Ismail dalam doanya.
Mengapa Nabi Ibrahim mengatakan dalam doanya meletakkan di lembah tandus”, padahal tanpa diberitahu Allah sudah tahu dimana Hajar dan Ismail diletakkan. Tapi mengapa disampaikan lagi oleh Ibrahim?
(1) Dalam ilmu balagho, ini tujuannya bukan untuk memberi tahu, tapi untuk menunjukkan kelemahan,kedhoifan dan merendah kepada Allah.
(2) Allah suka terhadap hambanya yang merendah.(Qs.28 Al- Qashash ayat 24).
Fasaqa lahumaa tsumma tawalla ilazh-zhilli faqaala rabbi innii limaa anzalta ilai-ya min khairin faqiirun
"Maka Musa memberi minum ternak itu, untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh, lalu berdo'a: 'Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan, yang Engkau (bisa) turunkan kepadaku'." – (QS.28:24)
(3) Seni dalam berdoa jangan berhenti meminta kepada Allah meskipun Allah maha tahu dan sebutkan kelemahan kita.

min dzurriyati_(sebagian keturunan), ini kata yang dipakai Ibrahim.
Padahal putera saat itu hanya ismail.
Ini menunjukkan keyakinan penuh Ibrahim bahwa kelak Allah akan menganugerahkan putra yang lain. (13 tahun setelah peristiwa ini ishaq lahir)
Dilembah yang tidak bertanaman
Keyakinan kokok Ibrahim kalau tidak ada tanaman maka tidak ada air, dimana kita tahu bahwa air adalah sumber kehidupan.
Ibrahim berkhusnudzon kepada Allah, Ibrahim menunjukkan TOTALITAS KEYAKINANNYA dalam berdoa kepada Allah.
Di sisi rumahmu yang mulia
Ia yakin jika Hajar dan Ismail berada di rumah ALLAH, maka mereka tidak akan di sia-siakan.
liyuqimussholah“_, Ibrahim tidak meminta fisik yang kuat atau lainnya akan tetapi sholat sebagai bentuk ketaatan seorang hamba.
Rezeki dari buah-buahan“, Ibrahim ingin agar kebutuhan fisik mereka terpenuhi karena dia tahu bahwa kelaparan itu dapat mendekatkan manusia pada kekufuran. Agar dengan demikian mereka menjadi hamba yang bersyukur.

Demikian kisah Siti Hajar ibunda nabi Ismail 
Semoga bermanfaat.
Wallahu’alam.
Jazakallah Khairan, Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. 
(Sebagai ganti ucapan terima kasih).
Wasalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Keutamaan Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail
A’udzubillaahi-minasy-syaithaanir-rajiim.
Bismillaah-hirrahmaanir-rahiim.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Siti Hajar adalah seorang wanita yang dimuliakan oleh Allah SWT. Siti Hajar yang merupakan ibu dari Ismail adalah salah satu wanita yang disebutkan dalam Al Quran. Sebagai wanita yang dimuliakan, Siti Hajar memiliki banyak keutamaan. Berikut adalah beberapa keutamaan Siti Hajar:

1. Wanita yang dijaga
Menurut sebagian ulama tafsir bahwa Hajar adalah putri Raja Mesir. Dia adalah saudari perempuan pangeran senusret, yang akan menjadi Raja pertama yang memerintah mesir.
Kemudian sampai suatu ketika Hexos menyerang mesir, senusret dibunuh dan Hajar ditawan sebagai budak. Raja yang baru ini suka sekali terhadap wanita. Akan tetapi dia selalu tidak berhasil medekati Hajar, karena tiap kali mendekati Hajar ada guncangan misterius yang terjadi (seperti halnya yang terjadi pada sarah, tiap kali sang raja ingin menyentuhnya tiba-tiba tangannya tidak bisa bergerak)
Karena memiliki kesamaan (sebagai ‘wanita yang dijaga’), makanya kemudia Raja Mesir tersebut memberikan Hajar kepada kepada Sarah sebagai hadiah.

2. Peka terhadap keadaan
Siti Hajar yang melahirkan Ismail di tengah-tengah keluarga Ibrahim tentunya menimbulkan kecemburuan bagi Siti Sarah. Hal ini membuat Siti Hajar merasa harus menghindar demi menjaga perasaan Siti Sarah. Maka dari itu, ia pergi menjauh bersama anaknya, Ismail yang berakhir di sebuah gurun pasir.

3. Cerdas
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa: wanita yang pertama kali memakai ikat pinggang adalah Hajar (Hajar memakai ikat pinggang, dan membiarkan bagian belakang ikat pinggangnya menjuntai ke tanah dengan tujuan untuk menghapus jejaknya agar tidak diikuti Sarah)

4. Taat kepada Allah SWT
Ketika sampai di Makkah Ibrahim memberi isyarat kepada Hajar agar menuju suatu tempat.
Dengan berbekal tempat makanan berisi kurma dan tempat minum berisi air, Ibrahim membelakangi Hajar dan kemudia melangkah meninggalkan keduanya. Hajar mengikutinya dan bertanya, “Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?”
Hajar mengulang pertanyaannya beberapa kali. Saat dilihatnya Ibrahim hanya diam, segera ia tersadar. “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?” tanyanya dengan kecerdasan luar biasa.
Benar“.Jawab Ibrahim
Jika demikian maka Allah tidak akan menelantarkan kami,”Jawab Hajar, wanita dengan penuh ketakwaan. Kemudian Ia kembali ke tempat semula, sedangkan Ibrahim melanjutkan perjalanannya.

4. Gigih
Sementara itu, Hajar menyusui Ismail kecil dan minum dari tempat perbekalannya. Setelah air itu habis, ia kehausan. Demikian pula anaknya. Siti Hajar memperhatikan anaknya yang berguling-guling kehausan. Ia tak tega. Dengan penuh cinta, ia beranjak pergi mendaki Bukit Shafa. Ia berharap ada orang yang akan menolongnya atau menemukan lokasi air. Ketika tak menemukan apa yang dicarinya, ia menaiki Bukit Marwah. Terus-menerus seperti itu sebanyak tujuh kali, sampai datanglah pertolongan Allah. Tiba-tiba air keluar dari bawah kaki Ismail kecil yang menangis karena kehausan.
Hajar takjub dan berkata, “Zamzam, zamzam. Berkumpul-berkumpul.” Ia segera membuat kolam kecil agar air Zamzam tak kemana-mana.
Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW, bersabda, “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada bunda Ismail, Hajar. Jika ia membiarkan Zamzam atau jika ia tidak membuat kolam, niscaya Zamzam menjadi mata air yang mengalir.”

5. Taat kepada suami
Ketika ia ditinggalkan oleh Ibrahim di tanah yang tandus lagi gersang, ia sama sekali tidak melawan atau marah pada sang suami. Ia justru dengan tegasnya tetap mentaati perintah suaminya meskipun ia ditinggalkan di tempat yang tidak ada makanan dan minuman.

6. Anak raja
Menurut sejarah, Siti Hajar sebenarnya adalah seorang putri raja Mesir atau Firaun. Ia bukanlah budak yang dalam konteks budak sebenarnya. Siti Hajar dijadikan budak akibat penyerangan musuh yang menyebabkan kekalahan Firaun. Akhirnya ia ditawan sebagai budak dan bernasib menjadi istri nabi Ibrahim Alaihis sallam.

7. Ibu dari nabi Ismail
Siapa yang tidak mengenal Ismail? Dalam usianya yang masih sangat muda, ia mempunyai keimanan yang luar biasa. Kisahnya dalam mengorbankan diri untuk disembelih oleh ayahnya, Ibrahim, menjadi tonggak sejarah dalam perayaan Idul Adha dan ibadah haji dalam Islam.

Berikut kisahnya dalam Surat 37 Ash-Shafaat ayat 100-113.
رَبِّهَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَ
شَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101)
 فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111) وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (112) وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ (113)

Rabbi hab lii minash-shaalihiin(a)
"Ya Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh'." – (QS.37:100)
Fabasy-syarnaahu bighulaamin haliimin
"Maka Kami beri dia khabar gembira, dengan seorang anak yang amat sabar." – (QS.37:101)
Falammaa balagha ma'ahussa'ya qaala yaa bunai-ya innii ara fiil manaami annii adzbahuka faanzhur maadzaa tara qaala yaa abatiif'al maa tu'maru satajidunii in syaa-allahu minash-shaabiriin(a)
"Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi, bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!'. Ia menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah, kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'." – (QS.37:102)
Falammaa aslamaa watallahu liljabiin(i)
"Tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya)." – (QS.37:103)
Wanaadainaahu an yaa ibraahiim(u)
"Dan Kami panggillah dia: 'Hai Ibrahim," – (QS.37:104)
Qad shaddaqtarru'yaa innaa kadzalika najziil muhsiniin(a)
"sesungguhnya kamu (Ibrahim) telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan, kepada orang-orang yang berbuat baik." – (QS.37:105)
Inna hadzaa lahuwal balaa-ul mubiin(u)
"Sesungguhnya, ini benar-benar suatu ujian yang nyata." – (QS.37:106)
Wafadainaahu bidzibhin 'azhiimin
"Dan Kami tebus anak itu,  dengan seekor sembelihan yang besar." – (QS.37:107)
Wataraknaa 'alaihi fii-aakhiriin(a)
"Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik), di kalangan orang-orang yang datang kemudian," – (QS.37:108)
Salaamun 'ala ibraahiim(a)
"(yaitu): 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'," – (QS.37:109)
Kadzalika najziil muhsiniin(a)
"Demikianlah Kami memberi balasan, kepada orang-orang yang berbuat baik." – (QS.37:110)
Innahu min 'ibaadinaal mu'miniin(a)
"Sesungguhnya, ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." – (QS.37:111)
Wabasy-syarnaahu biishaaqa nabii-yan minash-shaalihiin(a)
"Dan Kami beri dia khabar gembira, dengan (kelahiran) Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shaleh." – (QS.37:112)
Wabaaraknaa 'alaihi wa'ala ishaaqa wamin dzurrii-yatihimaa muhsinun wazhaalimun linafsihi mubiinun
"Kami limpahkan keberkahan atasnya dan atas Ishak. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik, dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." – (QS.37:113)

Dialah anak dari Siti Hajar, wanita yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Siti Hajar dikaruniai oleh seorang anak yang sholeh berkat ketegaran dan kesabarannya dalam menjalani ujian dari Allah Subhanhu wata’ala.

8. Sabar dalam menghadapi ujian
Siti Hajar adalah salah satu wanita yang sangat sabar dalam menghadapi ujian dari Allah Subhanhu wata’ala. Kesabarannya yang begitu tinggi terbukti ketika nabi Ibrahim Alaihis sallam meninggalkannya di tengah gurun pasir bersama sang anak.
Dengan penuh kesabaran ia melaksanakan perintah Allah yang diberikan kepadanya lewat sang suami.
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Maa 'indakum yanfadu wamaa 'indallahi baaqin walanajziyannal-ladziina shabaruu ajrahum biahsani maa kaanuu ya'maluun(a)
"Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya, Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar, dengan pahala yang lebih baik, dari apa yang telah mereka kerjakan." – (QS.16 An-Nahl ayat 96)


9. Husnudzhon kepada Allah
Siti Hajar tidak pernah sekalipun berburuk sangka kepada Allah SWT. Ia percaya bahwa ujian yang diberikan kepadanya adalah jalan terbaik yang disediakan oleh Allah untuknya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
Allah Ta’ala berfirman, “Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berbaik sangka, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Jika berprasangka buruk, maka ia mendapatkan keburukan.” (HR. Ahmad).

10. Ibu sejati
Ketika berada di gurun pasir dan anaknya menangis kehausan, ia berusaha sebisa mungkin mencari air kesana kemari demi anaknya. Ia bahkan rela berkali-kali menaiki dan menuruni bukit Safa Marwah hanya untuk mendapatkan air untuk anaknya yang kehausan.

11. Rendah hati
Siti Hajar bukanlah wanita yang sombong meskipun ia adalah seorang putri raja Mesir. Hal ini terlihat dari kerendahan hatinya dalam menghadapi Siti Sarah yang cemburu setelah ia melahirkan Ismail. Dengan segala kerendahan hatinya, ia mengalah dan pergi menjauh sesuai dengan perintah suaminya.

12. Selalu berdzikir
Dengan segala keimanannya, ia selalu berdzikir kepada Allah SWT. Ketika Siti Hajar diasingkan di gurun pasir, ia selalu berdzikir kepada Allah SWT. Ia tidak pernah sekalipun lupa pada Allah Sang Pencipta.

13. Selalu berdoa
Siti Hajar percaya bahwa ujian dari Allah tidak akan pernah melebihi kemampuan hambaNya. Ia selalu berdoa memohon pertolongan bagi dirinya dan anaknya.
Allah berfirman surat 7 Al-A’raaf ayat 55-56:
Ad'uu rabbakum tadharru'an wakhufyatan innahu laa yuhibbul mu'tadiin(a)
"Berdo'alah kepada Rabb-mu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." – (QS.7:55)
Walaa tufsiduu fiil ardhi ba'da ishlaahihaa waad'uuhu khaufan wathama'an inna rahmatallahi qariibun minal muhsiniin(a)
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdo'alah kepada-Nya, dengan rasa takut (tidak akan diterima), dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya, rahmat Allah amat dekat, kepada orang-orang yang berbuat baik." – (QS.7:56)

Itulah keutamaan Siti Hajar dalam Islam, sehingga Allah Subhanhu wata’ala mengabadikannya dalam ibadah Haji dan Umrah.
Demikian kisah Siti Hajar ibunda nabi Ismail 
Semoga bermanfaat.
Wallahu’alam.
Jazakallah Khairan, Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. 
(Sebagai ganti ucapan terima kasih).
Wasalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar