A’udzubillaahi-minasy-syaithaanir-rajiim.
Bismillaah-hirrahmaanir-rahiim.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Menurut
sebagian ulama tafsir bahwa Hajar adalah putri Raja Mesir. Dia adalah saudari perempuan
pangeran Senusret, yang akan menjadi Raja pertama yang memerintah mesir.
Kemudian
sampai suatu ketika Hexos menyerang mesir, Senusret dibunuh dan Hajar ditawan
sebagai budak. Raja yang baru ini suka sekali terhadap wanita. Akan tetapi dia
selalu tidak berhasil mendekati Hajar, karena tiap kali mendekati Hajar ada
guncangan misterius yang terjadi (seperti halnya yang terjadi pada Sarah, tiap
kali sang raja ingin menyentuhnya tiba-tiba tangannya tidak bisa bergerak)
Karena
memiliki kesamaan antara Hajar dan Sarah (sebagai ‘wanita yang dijaga’), maka
kemudian Raja Mesir tersebut memberikan Hajar kepada kepada Sarah sebagai
hadiah.
Pendapat
yang kedua dari sebagai ahli tafsir yang lain adalah bahwa Hajar memang seorang
budak dari awal bukan anak Raja. Ini juga cerita israiliyat yang banyak atau sering
kita dengar.
Tetapi
yang perlu digaris bawahi dan diingat bahwa apapun pendapat yang ada baik Hajar
adalah putri mahkota atau budak, bahwa Hajar adalah wanita yang mulia
dari manapun asalnya.
Sebagaimana
sabda Rasulullah:”Sesungguhnya dilahirkan dari pernikahan bukan dari
perzinahan.
Al Qurtubi menjelaskan bahwa maksud dari hadist diatas adalah bahwa nasab Rasulullah sampai ke Adam adalah nasab pernikahan, tidak ada satupun dari pihak Ayah atau Ibu yang melakukan perzinahan.
Al Qurtubi menjelaskan bahwa maksud dari hadist diatas adalah bahwa nasab Rasulullah sampai ke Adam adalah nasab pernikahan, tidak ada satupun dari pihak Ayah atau Ibu yang melakukan perzinahan.
Sebagaimana
yang terdapat di shahih muslim, Rasulullah bersabda : Sesungguhnya Allah
memilih Kinanah dari keturunan Ismail, dan Allah memilih Quraish dari keturunan
Kinanah, dan dari Quraish Allah pilih Bani Hasyim, dan dari Bani Hasyim
Allah memilih yang paling baik yaitu Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam.”
Dan
dalam riwayat yang lain berbunyi: “keturunan Adam yang paling baik adalah
Ibrahim dan kemudian jadilah Ia KekasihNya, dari keturunan Ibrahim Allah pilih
Ismail, dari keturunan Ismail Allah memilih Mudhor, dan dari Mudhor Allah pilih
kinanah, dan dari Qinanah Allah pilih Quraish, dan dari Quraish Allah pilih
Bani Hasyim, dan dari Bani Hasyim Allah pilih Muhammad”.
*Maka tidak diragukan lagi bahwa Hajar adalah wanita
istimewa yang disiapkan untuk lelaki mulia, dan melahirkan keturunan yang
mulia.*
HADIRNYA
HAJAR DITENGAH KELUARGA IBRAHIM
Ibrahim
tinggal di Babylonia, bagian selatan Mesoptamia (sekarang Irak).
Karena Negeri babilon tidak aman
lagi bagi Ibrahim dan istrinya Sarah,
maka ia memutuskan untuk pindah ke Syam (Palestina). Bersama Nabi Luth yang
kemudian juga menjadi Nabi dan beberapa pengikutnya ia meninggalkan Babilon.
Namun tidak berapa lama di Negeri Palestina diserang bahaya kelaparan dan
penyakit menular. Ibrahim dan
pengikutnya kemudian pindah ke Mesir. Mesir pada waktu itu diperintah oleh Raja
kejam dan suka berbuat seenaknya. Raja Mesir suka merampas wanita-wanita cantik
walapun wanita itu bersuami.
Diceritakan
dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam kitab Shahih
Buhkari :
Ibrahim dan Sarah Hijrah ke negeri Mesir, mereka mampir ke sebuah kota yang di pimpin oleh Raja yang kuat, Raja mengeluarkan kebijakan bahwa tidak boleh menggangu wanita yang bersama saudara lelakinya dan wanita boleh diambil jika bersama suami atau ayahnya. Maka ketika mata-mata Raja tahu akan kedatangan Ibrahim dan Sarah, mereka melaporkan bahwa ada wanita yang sangat cantik datang dan tidak ada yang pantas jadi suaminya selain Raja.
Ibrahim dan Sarah Hijrah ke negeri Mesir, mereka mampir ke sebuah kota yang di pimpin oleh Raja yang kuat, Raja mengeluarkan kebijakan bahwa tidak boleh menggangu wanita yang bersama saudara lelakinya dan wanita boleh diambil jika bersama suami atau ayahnya. Maka ketika mata-mata Raja tahu akan kedatangan Ibrahim dan Sarah, mereka melaporkan bahwa ada wanita yang sangat cantik datang dan tidak ada yang pantas jadi suaminya selain Raja.
Maka
Raja meminta mereka berdua agar dibawa kepadanya. Ketika Ibrahim dipanggil sang
Raja dan ditanya apa hubungannya dengan Sarah maka Ibrahim menjawab bahwa Sarah
adalah saudarinya. Kemudian Ibrahim kembali pulang ke rumahnya dan menyampaikan
ke Sarah bahwa ia mengatakan kepada Raja ” bahwa kau adalah saudariku”
dan Jangan memberi tahu kebohonganku kepadanya karena sesungguhnya di dalam
kitab Allah, kamu adalah saudara perempuanku (dalam Islam),” kata Ibrahim.
“Semua
orang Islam adalah saudara”
Sarah
kemudian mengadu kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Ia
beribadah dan bersujud, kemudian mengadukan kesedihannya. Ia memohon
perlindungan kepada Allah Subhanahu wata’ala. “Ya Allah, jikalah Engkau
mengetahui bahwa aku beriman kepada-Mu dan Rasul-Mu, mengetahui bahwa aku
menjaga kehormatanku untuk suamiku, maka janganlah kau jadikan raja kafir itu
berkuasa atasku,” kata Sarah sembari menangis.
Sarah
kemudian bertemu dengan Raja. Melihat kecantikannya, timbul nafsu dalam dirinya.
Berkali-kali sang raja ingin menyentuh Sarah, namun tangannya terasa lumpuh,
tak mampu bergerak. Tangannya terpaku di dada.
Ia
kemudian berkata pada Sarah, “Aku berjanji tak akan mengganggumu. Mohonlah
kepada Tuhanmu agar melepaskan tanganku. Sungguh, aku tidak akan menyakitimu.”
Sarah kembali berdoa, “Ya Allah, jika benar yang ia katakan, lepaskanlah
tangannya.”
Allah
Subhanahu wata’ala mengabulkan doanya. Tangan sang raja pun terlepas dan ia
sembuh dari kekakuan tubuhnya. Namun, ia mengingkari janjinya. Ia kembali
mendekati Sarah setelah tangannya dapat kembali bergerak. Kejadian yang sama
pun terulang hingga tiga kali.
Firaun
akhirnya menyerah. Ia justru ketakutan dengan kemampuan Sarah membentengi diri.
Ia menuduh Sarah adalah makhluk halus serupa setan yang melakukan tipu daya.
Sang raja segera memanggil pengawalnya dan berkata, “Kau bukanlah membawa
seorang wanita, melainkan membawa setan.”
Si
pengawal diperintahkan membawa kembali Sarah ke rumahnya. Sebelum pulang, raja
memberikan seorang budak kepada Sarah sebagai hadiah. Ia adalah Hajar.
Kemudian
pulanglah ketiganya ke Palestina. Selama tinggal bersama dengan Ibrahim dan
Sarah, Hajar mendapat banyak Ilmu Aqidah.
Sampai dimasa itu Sarah belum juga dikarunia putra, padahal usia mereka semakin menua (86 tahun), sedangkan Sarah(76 thun). Maka berkatalah Sarah kepada Ibrahim, seandainya engkau menikah dengan Hajar mungkin engkau akan memperoleh keturunan darinya. Maka tak lama setelah pernikahannya dengan Hajar maka lahirlah Nabi Ismail.
Sampai dimasa itu Sarah belum juga dikarunia putra, padahal usia mereka semakin menua (86 tahun), sedangkan Sarah(76 thun). Maka berkatalah Sarah kepada Ibrahim, seandainya engkau menikah dengan Hajar mungkin engkau akan memperoleh keturunan darinya. Maka tak lama setelah pernikahannya dengan Hajar maka lahirlah Nabi Ismail.
Mari
kita tengok bagaimana kesabaran Nabi Ibrahim dalam menanti keturunan yang
dijanjikan oleh Allah
Qs. 37 Ash Shaaffaat ayat 100 – 101:
Qs. 37 Ash Shaaffaat ayat 100 – 101:
رَبِّ
هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ( 100)
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ( 101)
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ( 101)
Rabbi hab lii minash-shaalihiin(a)
Fabasy-syarnaahu bighulaamin haliimin
"Ya Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang
termasuk orang-orang yang shaleh'." – (QS.37:100)
"Maka Kami beri dia khabar gembira, dengan seorang anak yang
amat sabar." – (QS.37:101)
Ayat
ini menceritakan bahwa ketika Nabi Ibrahim ketika akan hijrah dari kota
babilonia, memohon kepada Allah kiranya dianugerahi seorang anak yang saleh
lagi taat yang dapat menolongnya dalam menyampaikan dakwah dan mendampinginya
dalam perjalanan dan menjadi kawan dalam kesepian.
Kehadiran anak itu sebagai pengganti dari keluarga dan kaumnya yang ditinggalkannya. Permohonan Nabi Ibrahim ini diperkenankan Allah.
Kepadanya disampaikan berita gembira bahwa Allah akan menganugerahkan kepadanya seorang anak laki-laki yang punya sifat sangat sabar.
Kehadiran anak itu sebagai pengganti dari keluarga dan kaumnya yang ditinggalkannya. Permohonan Nabi Ibrahim ini diperkenankan Allah.
Kepadanya disampaikan berita gembira bahwa Allah akan menganugerahkan kepadanya seorang anak laki-laki yang punya sifat sangat sabar.
Sifat
sabar itu akan muncul pada waktu baligh. Karena pada masa kanak-kanak sedikit
sekali didapati sifat-sifat seperti sabar, tabah, lapang dada. Anak itu
adalah Ismail, anak laki-laki pertama dari Ibrahim.
Kesabaran
Ismail benar-benar terbukti ketika perintah penyembelian datang dari Allah.
Perintah
mengisahkan kisah Ismail, Al-Qur’an Surat 19 Maryam ayat 54.
Waadzkur fiil kitaabi ismaa'iila innahu kaana shaadiqal wa'di
wakaana rasuulaa nabii-yan
"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada
mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur'an. Sesungguhnya ia
adalah seorang yang benar janjinya, dan
dia adalah seorang rasul dan nabi."
– (QS.19:54)
Selanjutnya, Ketika Ismail lahir maka kecemburuan Sarah semakin memuncak. Maka ia meminta kepada ibrahim agar menjauhkan Hajar darinya.
Kemudian
Allah Subhanhu wata’ala menurunkan wahyu kepada Ibrahim supaya keinginan istri
pertamanya tersebut dipenuhinya. Lalu berangkatlah Nabi Ibrahim
bersama hajar dan Ismail ke tempat yang belum diketahui tujuannya. Pada
akhirnya Ibrahim bersama Hajar dan Ismail tiba di suatu tempat kota suci yang
disebut Makkah.
Ibnu
Abbas meriwayatkan bahwa: wanita yang pertama kali memakai ikat pinggang adalah
Hajar (Hajar memakai ikat pinggang, dan membiarkan bagian belakang ikat
pingganya menjuntai ke tanah dengan tujuan untuk menghapus jejaknya agar tidak
diikuti Sarah)
Ketika
sampai di Makkah Ibrahim memberi isyarat kepada Hajar agar menuju suatu tempat.
Dengan berbekal tempat makanan berisi kurma dan tempat minum berisi air, Ibrahim membelakangi Hajar dan kemudian melangkah meninggalkan keduanya. Hajar mengikutinya dan bertanya, “Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?”
Dengan berbekal tempat makanan berisi kurma dan tempat minum berisi air, Ibrahim membelakangi Hajar dan kemudian melangkah meninggalkan keduanya. Hajar mengikutinya dan bertanya, “Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?”
Hajar
mengulang pertanyaannya beberapa kali. Saat dilihatnya Ibrahim hanya diam,
segera ia tersadar. “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?”
tanyanya dengan kecerdasan luar biasa.
“Benar“.Jawab Ibrahim
“Jika demikian maka Allah tidak akan menelantarkan kami,”Jawab Hajar, wanita dengan penuh ketakwaan. Kemudian Ia kembali ke tempat semula, sedangkan Ibrahim melanjutkan perjalanannya.
“Benar“.Jawab Ibrahim
“Jika demikian maka Allah tidak akan menelantarkan kami,”Jawab Hajar, wanita dengan penuh ketakwaan. Kemudian Ia kembali ke tempat semula, sedangkan Ibrahim melanjutkan perjalanannya.
Nabi
Ibrahim pergi bukan atas kemauannya sendiri, Ia pergi karena perintah dari
Allah. Dengan berat hati Ia pergi melanjutkan perjalannanya sampai ke Tsaniah,
tempat dimana Hajar dan ismail tidak bisa melihatnya. Ibrahim adalah Ayah yang
begitu penyayang, Ayah yang begitu penyayang itu sangat sedih, namun ia yakin
Allah menginginkan yang terbaik untuk hamba-Nya. Tanpa sepengetahuan Hajar,
Ibrahim menghadapkan wajahnya ke Baitullah seraya mengangkat kedua tangannya
dan berdoa.
Al-Qur’an
surat 14 Ibrahim ayat 35-37:
Wa-idz qaala ibraahiimu rabbiij'al hadzaal balada aaminan
waajnubnii wabanii-ya an na'budal ashnaam(a)
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: 'Ya Rabb-ku,
jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta
anak cucuku dari menyembah berhala-berhala." – (QS.14:35)
Rabbi innahunna adhlalna katsiiran minannaasi faman tabi'anii
fa-innahu minnii waman 'ashaanii fa-innaka ghafuurun rahiimun
"Ya Rabb-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah
menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka
sesungguhnya, orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai
aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." – (QS.14:36)
Rabbanaa innii askantu min dzurrii-yatii biwaadin ghairi dzii
zar'in 'inda baitikal muharrami rabbanaa liyuqiimuush-shalaata faaj'al
af-idatan minannaasi tahwii ilaihim waarzuqhum minats-tsamaraati la'allahum
yasykuruun(a)
"Ya Rabb-kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian
keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau
(Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb-kami (yang demikian itu), agar mereka
mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada
mereka dan beri rejekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka
bersyukur." – (QS.14:37)
Sementara
itu, Hajar menyusui Ismail kecil dan minum dari tempat perbekalannya. Setelah
air itu habis, ia kehausan. Demikian pula anaknya. Siti Hajar memperhatikan
anaknya yang berguling-guling kehausan. Ia tak tega. Dengan penuh cinta, ia
beranjak pergi mendaki Bukit Shafa. Ia berharap ada orang yang akan menolongnya
atau menemukan lokasi air. Ketika tak menemukan apa yang dicarinya, ia menaiki
Bukit Marwah. Terus-menerus seperti itu sebanyak tujuh kali, sampai datanglah pertolongan
Allah. Tiba-tiba air keluar dari bawah kaki Ismail kecil yang menangis karena
kehausan.
Hajar
takjub dan berkata, “Zamzam, zamzam. Berkumpul-berkumpul.” Ia segera
membuat kolam kecil agar air Zamzam tak kemana-mana.
Ibnu
Abbas berkata bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Semoga
Allah melimpahkan rahmat kepada bunda Ismail, Hajar. Jika ia membiarkan Zamzam
atau jika ia tidak membuat kolam, niscaya Zamzam menjadi mata air yang
mengalir.”
Hajar
minum lalu menyusui anaknya. Dengan limpahan karunia berupa air yang diberikan
Allah kepadanya, banyak manusia singgah dan menetap di sana hingga ramailah
tempat itu. Peristiwa mendaki Bukit Shafa dan Bukit Marwah diabadikan Allah
sebagai salah satu rukun haji dan umrah. Tujuannya adalah agar kita yakin bahwa
Allah tak akan menyia-nyiakan kita jika kita senantiasa patuh dan berusaha
semaksimal mungkin dalam kehidupan ini, termasuk dalam berjuang untuk anak-anak
kita.
Hajar
mengerti Allah sangat menyayanginya. Ia yakin Allah akan selalu menolongnya.
KAJIAN
DOA IBRAHIM AS
Ibrahim
menoleh ke arah Ka’bah dan ia melihat Hajar dan Ismail. Tanpa diminta Hajar,
Ibrahim berdoa untuk keduanya. (14:37).
رَبَّنَا
إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ
الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ
تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (٣٧)
Rabbanaa innii askantu min dzurrii-yatii biwaadin ghairi dzii
zar'in 'inda baitikal muharrami rabbanaa liyuqiimuush-shalaata faaj'al
af-idatan minannaasi tahwii ilaihim waarzuqhum minats-tsamaraati la'allahum
yasykuruun(a)
"Ya Rabb-kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian
keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau
(Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb-kami (yang demikian itu), agar mereka
mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada
mereka dan beri rejekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka
bersyukur." – (QS.14:37)
.
Kajian Doa nabi Ibrahim
Kita tahu bahwa Ibrahim adalah manusia yang cerdas dalam berdoa, maka mari kita kaji dibalik doa Ibrahim Alaihis Sallam pada surah 14:37 ini:
Nabi Ibrahim memakai kata “Rabbana“, (Ya Tuhan kami), padahal saat itu Nabi Ibrahim berdoa sendiri (dia tidak memakai kata Rabbi), Hal ini menunjukkan bahwa Ibrahim melibatkan Hajar dan Ismail dalam doanya.
Kita tahu bahwa Ibrahim adalah manusia yang cerdas dalam berdoa, maka mari kita kaji dibalik doa Ibrahim Alaihis Sallam pada surah 14:37 ini:
Nabi Ibrahim memakai kata “Rabbana“, (Ya Tuhan kami), padahal saat itu Nabi Ibrahim berdoa sendiri (dia tidak memakai kata Rabbi), Hal ini menunjukkan bahwa Ibrahim melibatkan Hajar dan Ismail dalam doanya.
Mengapa
Nabi Ibrahim mengatakan dalam doanya “meletakkan
di lembah tandus”, padahal tanpa diberitahu Allah sudah tahu dimana
Hajar dan Ismail diletakkan. Tapi mengapa disampaikan lagi oleh Ibrahim?
(1) Dalam ilmu balagho, ini tujuannya bukan untuk memberi tahu, tapi untuk menunjukkan kelemahan,kedhoifan dan merendah kepada Allah.
(2) Allah suka terhadap hambanya yang merendah.(Qs.28 Al- Qashash ayat 24).
(1) Dalam ilmu balagho, ini tujuannya bukan untuk memberi tahu, tapi untuk menunjukkan kelemahan,kedhoifan dan merendah kepada Allah.
(2) Allah suka terhadap hambanya yang merendah.(Qs.28 Al- Qashash ayat 24).
Fasaqa lahumaa tsumma tawalla ilazh-zhilli faqaala rabbi innii
limaa anzalta ilai-ya min khairin faqiirun
"Maka Musa memberi minum ternak itu, untuk (menolong)
keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh, lalu berdo'a: 'Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku sangat
memerlukan sesuatu kebaikan, yang Engkau (bisa) turunkan kepadaku'." –
(QS.28:24)
(3) Seni dalam berdoa jangan berhenti meminta kepada Allah meskipun Allah maha tahu dan sebutkan kelemahan kita.
(3) Seni dalam berdoa jangan berhenti meminta kepada Allah meskipun Allah maha tahu dan sebutkan kelemahan kita.
min dzurriyati_(sebagian
keturunan), ini kata yang dipakai Ibrahim.
Padahal putera saat itu hanya ismail.
Ini menunjukkan keyakinan penuh Ibrahim bahwa kelak Allah akan menganugerahkan putra yang lain. (13 tahun setelah peristiwa ini ishaq lahir)
Padahal putera saat itu hanya ismail.
Ini menunjukkan keyakinan penuh Ibrahim bahwa kelak Allah akan menganugerahkan putra yang lain. (13 tahun setelah peristiwa ini ishaq lahir)
“Dilembah yang tidak bertanaman”
Keyakinan kokok Ibrahim kalau tidak ada tanaman maka tidak ada air, dimana kita tahu bahwa air adalah sumber kehidupan.
Ibrahim berkhusnudzon kepada Allah, Ibrahim menunjukkan TOTALITAS KEYAKINANNYA dalam berdoa kepada Allah.
Keyakinan kokok Ibrahim kalau tidak ada tanaman maka tidak ada air, dimana kita tahu bahwa air adalah sumber kehidupan.
Ibrahim berkhusnudzon kepada Allah, Ibrahim menunjukkan TOTALITAS KEYAKINANNYA dalam berdoa kepada Allah.
“Di sisi rumahmu yang mulia”
Ia yakin jika Hajar dan Ismail berada di rumah ALLAH, maka mereka tidak akan di sia-siakan.
Ia yakin jika Hajar dan Ismail berada di rumah ALLAH, maka mereka tidak akan di sia-siakan.
”liyuqimussholah“_, Ibrahim
tidak meminta fisik yang kuat atau lainnya akan tetapi sholat sebagai bentuk
ketaatan seorang hamba.
”Rezeki dari buah-buahan“, Ibrahim ingin agar kebutuhan fisik mereka terpenuhi
karena dia tahu bahwa kelaparan itu dapat mendekatkan manusia pada kekufuran.
Agar dengan demikian mereka menjadi hamba yang bersyukur.
Demikian kisah Siti Hajar ibunda
nabi Ismail
Semoga bermanfaat.
Wallahu’alam.
Jazakallah Khairan, Semoga
Allah membalasmu dengan kebaikan.
(Sebagai ganti ucapan terima kasih).
Wasalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Keutamaan Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail
A’udzubillaahi-minasy-syaithaanir-rajiim.
Bismillaah-hirrahmaanir-rahiim.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Siti
Hajar adalah seorang wanita yang dimuliakan oleh Allah SWT. Siti Hajar yang
merupakan ibu dari Ismail adalah salah satu wanita yang disebutkan dalam Al
Quran. Sebagai wanita yang dimuliakan, Siti Hajar memiliki banyak keutamaan.
Berikut adalah beberapa keutamaan Siti Hajar:
1. Wanita yang dijaga
Menurut
sebagian ulama tafsir bahwa Hajar adalah putri Raja Mesir. Dia adalah saudari
perempuan pangeran senusret, yang akan menjadi Raja pertama yang memerintah
mesir.
Kemudian
sampai suatu ketika Hexos menyerang mesir, senusret dibunuh dan Hajar ditawan
sebagai budak. Raja yang baru ini suka sekali terhadap wanita. Akan tetapi dia
selalu tidak berhasil medekati Hajar, karena tiap kali mendekati Hajar ada
guncangan misterius yang terjadi (seperti halnya yang terjadi pada sarah, tiap
kali sang raja ingin menyentuhnya tiba-tiba tangannya tidak bisa bergerak)
Karena
memiliki kesamaan (sebagai ‘wanita yang dijaga’), makanya kemudia Raja Mesir
tersebut memberikan Hajar kepada kepada Sarah sebagai hadiah.
2. Peka terhadap keadaan
Siti
Hajar yang melahirkan Ismail di tengah-tengah keluarga Ibrahim tentunya
menimbulkan kecemburuan bagi Siti Sarah. Hal ini membuat Siti Hajar merasa
harus menghindar demi menjaga perasaan Siti Sarah. Maka dari itu, ia pergi
menjauh bersama anaknya, Ismail yang berakhir di sebuah gurun pasir.
3. Cerdas
Ibnu
Abbas meriwayatkan bahwa: wanita yang pertama kali memakai ikat pinggang
adalah Hajar (Hajar memakai ikat pinggang, dan membiarkan bagian belakang ikat
pinggangnya menjuntai ke tanah dengan tujuan untuk menghapus jejaknya agar
tidak diikuti Sarah)
4. Taat kepada Allah SWT
Ketika
sampai di Makkah Ibrahim memberi isyarat kepada Hajar agar menuju suatu tempat.
Dengan berbekal tempat makanan berisi kurma dan tempat minum berisi air, Ibrahim membelakangi Hajar dan kemudia melangkah meninggalkan keduanya. Hajar mengikutinya dan bertanya, “Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?”
Dengan berbekal tempat makanan berisi kurma dan tempat minum berisi air, Ibrahim membelakangi Hajar dan kemudia melangkah meninggalkan keduanya. Hajar mengikutinya dan bertanya, “Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?”
Hajar
mengulang pertanyaannya beberapa kali. Saat dilihatnya Ibrahim hanya diam,
segera ia tersadar. “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?”
tanyanya dengan kecerdasan luar biasa.
“Benar“.Jawab
Ibrahim
“Jika
demikian maka Allah tidak akan menelantarkan kami,”Jawab Hajar, wanita
dengan penuh ketakwaan. Kemudian Ia kembali ke tempat semula, sedangkan Ibrahim
melanjutkan perjalanannya.
4. Gigih
Sementara
itu, Hajar menyusui Ismail kecil dan minum dari tempat perbekalannya. Setelah
air itu habis, ia kehausan. Demikian pula anaknya. Siti Hajar memperhatikan
anaknya yang berguling-guling kehausan. Ia tak tega. Dengan penuh cinta, ia
beranjak pergi mendaki Bukit Shafa. Ia berharap ada orang yang akan menolongnya
atau menemukan lokasi air. Ketika tak menemukan apa yang dicarinya, ia menaiki
Bukit Marwah. Terus-menerus seperti itu sebanyak tujuh kali, sampai datanglah
pertolongan Allah. Tiba-tiba air keluar dari bawah kaki Ismail kecil yang
menangis karena kehausan.
Hajar
takjub dan berkata, “Zamzam, zamzam. Berkumpul-berkumpul.” Ia segera
membuat kolam kecil agar air Zamzam tak kemana-mana.
Ibnu
Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW, bersabda, “Semoga Allah melimpahkan rahmat
kepada bunda Ismail, Hajar. Jika ia membiarkan Zamzam atau jika ia tidak
membuat kolam, niscaya Zamzam menjadi mata air yang mengalir.”
5. Taat kepada suami
Ketika ia ditinggalkan oleh Ibrahim
di tanah yang tandus lagi gersang, ia sama sekali tidak melawan atau marah pada
sang suami. Ia justru dengan tegasnya tetap mentaati perintah suaminya meskipun
ia ditinggalkan di tempat yang tidak ada makanan dan minuman.
6. Anak raja
Menurut sejarah, Siti Hajar
sebenarnya adalah seorang putri raja Mesir atau Firaun. Ia bukanlah budak yang
dalam konteks budak sebenarnya. Siti Hajar dijadikan budak akibat penyerangan
musuh yang menyebabkan kekalahan Firaun. Akhirnya ia ditawan sebagai budak dan
bernasib menjadi istri nabi Ibrahim Alaihis sallam.
7. Ibu dari nabi Ismail
Siapa yang tidak mengenal Ismail?
Dalam usianya yang masih sangat muda, ia mempunyai keimanan yang luar biasa.
Kisahnya dalam mengorbankan diri untuk disembelih oleh ayahnya, Ibrahim,
menjadi tonggak sejarah dalam perayaan Idul Adha dan ibadah haji dalam Islam.
Berikut kisahnya dalam Surat 37
Ash-Shafaat ayat 100-113.
رَبِّهَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
(100) فَبَ
شَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101)
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا
بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ
الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103)
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا
كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ
(106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي
الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي
الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111)
وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ (112) وَبَارَكْنَا
عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ
مُبِينٌ (113)
Rabbi hab lii
minash-shaalihiin(a)
"Ya Rabb-ku,
anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang
shaleh'." – (QS.37:100)
Fabasy-syarnaahu
bighulaamin haliimin
"Maka Kami beri dia
khabar gembira, dengan seorang anak yang amat sabar." – (QS.37:101)
Falammaa balagha
ma'ahussa'ya qaala yaa bunai-ya innii ara fiil manaami annii adzbahuka faanzhur
maadzaa tara qaala yaa abatiif'al maa tu'maru satajidunii in syaa-allahu
minash-shaabiriin(a)
"Maka tatkala anak
itu (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: 'Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi, bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!'. Ia menjawab: 'Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah, kamu akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar'." – (QS.37:102)
Falammaa aslamaa
watallahu liljabiin(i)
"Tatkala keduanya
telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah
kesabaran keduanya)." – (QS.37:103)
Wanaadainaahu an yaa
ibraahiim(u)
"Dan Kami panggillah
dia: 'Hai Ibrahim," – (QS.37:104)
Qad shaddaqtarru'yaa
innaa kadzalika najziil muhsiniin(a)
"sesungguhnya kamu
(Ibrahim) telah membenarkan mimpi itu', sesungguhnya demikianlah Kami memberi
balasan, kepada orang-orang yang berbuat baik." – (QS.37:105)
Inna hadzaa lahuwal
balaa-ul mubiin(u)
"Sesungguhnya, ini
benar-benar suatu ujian yang nyata." – (QS.37:106)
Wafadainaahu bidzibhin
'azhiimin
"Dan Kami tebus anak
itu, dengan seekor sembelihan yang
besar." – (QS.37:107)
Wataraknaa 'alaihi
fii-aakhiriin(a)
"Kami abadikan untuk
Ibrahim itu (pujian yang baik), di kalangan orang-orang yang datang
kemudian," – (QS.37:108)
Salaamun 'ala
ibraahiim(a)
"(yaitu): 'Kesejahteraan
dilimpahkan atas Ibrahim'," – (QS.37:109)
Kadzalika najziil
muhsiniin(a)
"Demikianlah Kami
memberi balasan, kepada orang-orang yang berbuat baik." – (QS.37:110)
Innahu min 'ibaadinaal
mu'miniin(a)
"Sesungguhnya, ia
termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." – (QS.37:111)
Wabasy-syarnaahu
biishaaqa nabii-yan minash-shaalihiin(a)
"Dan Kami beri dia
khabar gembira, dengan (kelahiran) Ishak, seorang nabi yang termasuk
orang-orang yang shaleh." – (QS.37:112)
Wabaaraknaa 'alaihi
wa'ala ishaaqa wamin dzurrii-yatihimaa muhsinun wazhaalimun linafsihi mubiinun
"Kami limpahkan
keberkahan atasnya dan atas Ishak. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat
baik, dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata." –
(QS.37:113)
Dialah anak dari Siti Hajar, wanita
yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Siti Hajar dikaruniai oleh
seorang anak yang sholeh berkat ketegaran dan kesabarannya dalam menjalani
ujian dari Allah Subhanhu wata’ala.
8. Sabar dalam menghadapi ujian
Siti Hajar adalah salah satu wanita
yang sangat sabar dalam menghadapi ujian dari Allah Subhanhu wata’ala.
Kesabarannya yang begitu tinggi terbukti ketika nabi Ibrahim Alaihis sallam
meninggalkannya di tengah gurun pasir bersama sang anak.
Dengan penuh kesabaran ia
melaksanakan perintah Allah yang diberikan kepadanya lewat sang suami.
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا
أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Maa 'indakum yanfadu
wamaa 'indallahi baaqin walanajziyannal-ladziina shabaruu ajrahum biahsani maa
kaanuu ya'maluun(a)
"Apa yang dari
sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan
sesungguhnya, Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar, dengan
pahala yang lebih baik, dari apa yang telah mereka kerjakan." – (QS.16 An-Nahl ayat 96)
9. Husnudzhon kepada Allah
Siti
Hajar tidak pernah sekalipun berburuk sangka kepada Allah SWT. Ia percaya bahwa
ujian yang diberikan kepadanya adalah jalan terbaik yang disediakan oleh Allah
untuknya.
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam bersabda,
“Allah
Ta’ala berfirman, “Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia
berbaik sangka, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Jika berprasangka buruk,
maka ia mendapatkan keburukan.” (HR. Ahmad).
10. Ibu sejati
Ketika
berada di gurun pasir dan anaknya menangis kehausan, ia berusaha sebisa mungkin
mencari air kesana kemari demi anaknya. Ia bahkan rela berkali-kali menaiki dan
menuruni bukit Safa Marwah hanya untuk mendapatkan air untuk anaknya yang kehausan.
11. Rendah hati
Siti
Hajar bukanlah wanita yang sombong meskipun ia adalah seorang putri raja Mesir.
Hal ini terlihat dari kerendahan hatinya dalam menghadapi Siti Sarah yang
cemburu setelah ia melahirkan Ismail. Dengan segala kerendahan hatinya, ia
mengalah dan pergi menjauh sesuai dengan perintah suaminya.
12. Selalu berdzikir
Dengan
segala keimanannya, ia selalu berdzikir kepada Allah SWT. Ketika Siti Hajar
diasingkan di gurun pasir, ia selalu berdzikir kepada Allah SWT. Ia tidak
pernah sekalipun lupa pada Allah Sang Pencipta.
13. Selalu berdoa
Siti
Hajar percaya bahwa ujian dari Allah tidak akan pernah melebihi kemampuan
hambaNya. Ia selalu berdoa memohon pertolongan bagi dirinya dan anaknya.
Allah
berfirman surat 7 Al-A’raaf ayat 55-56:
Ad'uu rabbakum tadharru'an wakhufyatan innahu laa yuhibbul
mu'tadiin(a)
"Berdo'alah kepada Rabb-mu dengan merendahkan diri dan suara
yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas." – (QS.7:55)
Walaa tufsiduu fiil ardhi ba'da ishlaahihaa waad'uuhu khaufan
wathama'an inna rahmatallahi qariibun minal muhsiniin(a)
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah
(Allah) memperbaikinya, dan berdo'alah kepada-Nya, dengan rasa takut (tidak
akan diterima), dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya, rahmat Allah amat
dekat, kepada orang-orang yang berbuat baik." – (QS.7:56)
Itulah
keutamaan Siti Hajar dalam Islam, sehingga Allah Subhanhu wata’ala
mengabadikannya dalam ibadah Haji dan Umrah.
Demikian kisah Siti Hajar ibunda nabi
Ismail
Semoga bermanfaat.
Wallahu’alam.
Jazakallah Khairan, Semoga
Allah membalasmu dengan kebaikan.
(Sebagai ganti ucapan terima kasih).
Wasalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar